Kementerian Komunikasi dan Digital sedang menyiapkan perluasan pembangunan pusat data swasta ke Indonesia bagian timur. Pengumuman itu disampaikan di Bali Tech Week 2026 di Denpasar pada 20 Oktober 2026 oleh Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto.
Bagi pembaca yang menjalankan toko online, berita ini terasa jauh dari operasional harian. Sebenarnya tidak. Lokasi pusat data menentukan latensi aplikasi, harga layanan awan, dan seberapa cepat fitur berbasis AI bisa dipakai di dashboard seller.
Apa yang sebenarnya diumumkan
Pemerintah ingin membuka peluang investasi infrastruktur digital yang selama ini terkonsentrasi di Indonesia bagian barat. Prioritas kawasan yang disebut mencakup Sulawesi dan Kupang, dengan pertimbangan kebutuhan pemerintah, industri, pendidikan, dan layanan publik.
Dasar hukumnya sedang disiapkan: Rancangan Peraturan Presiden tentang kabel bawah laut dan pusat data sudah memasuki tahap konsultasi publik. Regulasi ini diharapkan menyederhanakan perizinan, menstandarkan prosedur teknis, dan mengintegrasikan aspek keamanan serta kelangsungan operasional.
Empat syarat yang disebut pemerintah
| Parameter | Keterangan |
|---|---|
| Listrik | Kepastian pasokan termasuk kesiapan gardu induk |
| Air | Ketersediaan air untuk sistem pendinginan |
| Konektivitas | Jaringan andal plus jalur cadangan ke pusat konektivitas nasional dan internasional |
| Perizinan | Penyederhanaan prosedur melalui RPP kabel bawah laut dan pusat data |
| Lahan dan biaya | Kepastian lahan serta perhitungan biaya proyek |
| Mitigasi risiko | Pertimbangan risiko bencana pada lokasi terpilih |
Wayan menegaskan koordinasi lintas sektor sebagai syarat utama: pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, operator jaringan, instansi pertanahan, dan investor. Tanpa itu, lokasi yang sudah dipilih bisa berhenti di tahap pembebasan lahan.
Kami perlu memprioritaskan kawasan-kawasan tertentu dengan mempertimbangkan kebutuhan pemerintah, industri, dunia pendidikan, dan layanan publik. Selain itu, pasokan energi dan kesesuaian lokasi juga merupakan hal penting. — Wayan Toni Supriyanto, Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi
Mengapa lokasi pusat data berpengaruh pada toko online
Setiap permintaan dari aplikasi seller harus menempuh perjalanan ke server. Semakin jauh jaraknya, semakin besar latensi. Untuk pengguna di Makassar atau Kupang yang memakai layanan yang servernya berada di Jakarta atau Singapura, latensi tambahan terasa pada saat membuka katalog, mengunggah foto produk, dan memproses pesanan saat jam sibuk.
Efeknya bukan pada satu klik, tetapi pada ratusan klik sehari. Penjual yang mengunggah 50 foto produk dari koneksi seluler akan merasakan perbedaan beberapa detik per unggahan sebagai waktu kerja yang hilang.
AI Factory dan biaya fitur AI
Pemerintah menyebut perencanaan AI Factory sebagai bagian dari penguatan infrastruktur. Untuk penjual, implikasinya sederhana: fitur seperti pembuatan deskripsi otomatis, pembuatan gambar promosi, dan analisis ulasan membutuhkan kapasitas komputasi. Jika komputasi itu berada di luar negeri, biayanya mengikuti kurs dan tarif layanan global.
Pusat data domestik tidak otomatis membuat layanan AI lebih murah, tetapi membuka kemungkinan penyedia lokal menawarkan harga dan kepatuhan data yang berbeda. Itu perubahan struktural, bukan diskon bulan depan.
Konektivitas cadangan: bagian yang paling relevan
Komdigi menyatakan akan menyediakan konektivitas cadangan ke pusat jaringan nasional dan internasional agar pusat data di timur tidak terisolasi. Bagi toko online, ini menyangkut hal yang sangat praktis: apa yang terjadi saat satu jalur jaringan terputus.
Selama ini, gangguan pada satu jalur kabel bisa membuat dashboard seller tidak bisa diakses selama berjam-jam. Rute alternatif tidak menghilangkan gangguan, tetapi mempersingkat durasinya.
Latensi dalam angka: kenapa jarak tetap dihitung
Cahaya di dalam serat optik bergerak sekitar 200.000 kilometer per detik, atau 5 mikrodetik per kilometer. Jarak Jakarta–Makassar sekitar 1.400 kilometer, sehingga waktu tempuh minimal satu arah kira-kira 7 milidetik — sebelum menghitung perangkat jaringan, antrean paket data, dan rute kabel yang berbelok.
Tujuh milidetik terdengar kecil, dan memang kecil untuk membuka halaman web. Tetapi pada aplikasi yang membutuhkan banyak permintaan berurutan — memuat daftar produk, membuka detail, mengunggah foto, menyimpan perubahan stok — latensi dasar itu berlipat. Pusat data yang lebih dekat memotong sebagian dari angka dasar tersebut, bukan seluruhnya.
Yang bisa dilakukan sekarang
- Periksa lokasi server layanan yang Anda pakai. Jika toko Anda punya situs sendiri, pilih region Singapura atau Jakarta, bukan Amerika atau Eropa.
- Uji kecepatan dashboard seller dari jaringan seluler pada jam sibuk, bukan dari Wi-Fi kantor.
- Siapkan prosedur manual: daftar pesanan dicetak, stok dicatat lokal, dan nomor kontak kurir.
- Simpan salinan data penting — daftar produk, harga, dan kontak pelanggan — di luar platform.
- Jangan bergantung pada satu kanal penjualan; gangguan platform selalu mungkin terjadi.
Kapan dampaknya terasa
Pemerintah menyebut sasaran kebutuhan ekonomi digital dan pengembangan AI hingga 2030. Artinya, ini agenda jangka menengah. Untuk 2026–2027, yang realistis dinantikan adalah penyelesaian regulasi dan dimulainya proyek di lokasi prioritas, bukan perubahan harga layanan awan dalam waktu dekat.
Membaca berita infrastruktur dengan cara ini lebih berguna: bukan untuk menebak kapan harga turun, tetapi untuk memutuskan di mana menempatkan sistem yang akan Anda pakai lima tahun ke depan.
Artikel terkait di Aethericos
- UU PDP dan data pembeli: kewajiban penjual online
- Menghitung HPP dan harga jual di Shopee/TikTok Shop



